Minggu, 20 Mei 2018

Novel You Are My Life

Bab I

" Apa aku salah.? mengorbankan cita-citaku,demi terwujudnya cita-cita, orang yang aku cintai?"
Aku tidak pernah meminta untuk di lahirkan, dari orangtua yang kaya atau yang miskin.begitu juga orang tuaku, tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk melahirkanku.
Orang tuaku seorang petani, kami dua bersaudara. Mas Andi, kakakku orang paling angkuh dan keras kepala. tapi dia tanggung jawab. Saat orang tuaku ke sawah mas Andi juga membantu. Mas Andi selalu ngajarin aku ngaji, membantuku pekerjaan rumah saat aku tidak bisa, aku sering di ajarkan berbagai macam Budi pekerti yang luhur.Sosok kakak yang bisa di buat contoh dan  di kagumi.
Syukur adalah kenikmatan yang sangat luar biasa, rasa syukur itu tidak bisa di lukis dengan kanvas berjuta warna warni dan di tulis dengan rangkaian kata-kata indah untuk menaklukkan hati seorang wanita.
Hidup keluarga kami, aku bilang cukup seukuran petani yang hidup di desa. Karena orang tuaku mampu menyekolahkan aku yang saat ini masih di bangku sekolah  kelas 3 menengah pertama tinggal menunggu pengumuman kelulusan,Mas Andi sudah lulus sekolah menengah kejuruan.walau mas Andi di sekolah tidak termasuk murid teladan tapi hasil ujian mas Andi cukup baik.
Mas Andi berambisi ingin menjadi orang sukses, maka mas Andi bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke universitas agar cita-citanya terwujud. Sebagai adik aku bangga dengan kakakku.
Seperti biasa aku membantu orang tuaku di sawah, Karena hari ini libur sekolah.
Adzan dhuhur berkumandang, nama pencipta jagad seisinya menggema di penjuru bumi, semuanya bertasbih menyebutnya.
" Putro..! Ayo kita pulang!
Ajak bapakku.
Aku pun melangkah menuju kepinggir sawah sambil menenteng cangkul. Kaki yang berlumpur pun aku bersihkan.bapakku tersenyum saat wajahnya aku tatap.
" Makanya..belajar yang rajin biar ga jadi petani kayak bapakmu dan ibumu..!"
" Jeh ,pak! Belajar itu kewajiban tho, bapak! Mau kerja pabrik,kantoran,atau tani itu pilihan lho,pak!"
"Anakku dah pinter ngomong..wes ayo dang pulang..masakan  ibumu darmi sudah matang kelihatanya .."
Aku dan bapak tertawa bahagia dan kami pun melangkah pulang.

Terik matahari bersinar panas, udara yang agak lembab menetralisir panasnya sang matahari, kami berjalan di pematang sawah. Tanaman padi yang mulai belajar tumbuh, untuk bisa menjadi manfaat setiap manusia.

Rumahku yang sederhana, terbuat dari bambu yang Beratap genteng. halaman rumahku yang tidak terlalu luas, tumbuh pohon mangga mulai berbunga. Di tepi teras tumbuh bunga melati kesukaanku. Bunga melati yang harum putih warnanya makin indah saat kedua mataku melihat, ibuku yang sedang duduk di kursi di teras rumah.  Ada 4 Kursi terbuat dari bambu tempat favorit temanku saat pada main kerumahku.
Terlihat jelas senyum ibuku laksana bidadari turun kebumi, karena surga tempatnya sudah penuh, sehingga bidadari ingin menjadi penghuni bumi.bila tuhan mengijinkanya,
Bapakku duduk di kursi. Sambil mengipas-ngipaskan topinya. Aku pun duduk setelah menaruh cangkul dan topiku yang terbuat dari bambu.ibuku menuangkan air putih dari kendi dan di berikan ke bapakku. Bapakku meminum air putih pemberian ibuku, lehernya yg mengkerut dan bunyi tenggorokan yang kehausan, selama ribuan tahun tersirami dengan kasih dari seorang istri.ibuku menyuruh bapak dan aku untuk bersih-bersih. Setelah itu sholat dan makan siang.
                               ***
Lelah memeluk tubuhku habis membantu orang tuaku di  sawah. Aku rebahkan tubuhku di tempat tidur yang terbuat dari bambu beralaskan tikar pandan .suara bunyi bambu terdengar saat tubuhku berbaring.
langit- langit kamarku tiada flopon, hanya bambu yang menopang genteng.
beberapa sarang laba-laba menghiasi langit  kamarku. Dinding kamarku yang terbuat dari bambu tertempel foto aku mas Andi dan kedua orangtuaku tanpa di bingkai.
Angin yang berdesir masuk melalui jendela dan celah lobang dinding rumah yang terbuat dari bambu.
desiran angin itu berbisik, menyanyikan tentang keindahan alam yang membuat kita terbuai di alam khayalan yang indah.
Mataku mulai terpejam. Angin seolah mendongengkan aku dan hembusanya membelai lembut jiwa-jiwa yang harus kedamaian.
Samar-samar aku dengar keributan di ruang tamu, membuatku terbangun dari mimpi indahku.

" Darimana,ibumu bayar kuliah, Ger,!
Kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi kuliahmu di kota besar di, jakarta.ingat Andi kamu ini orang kampung bapak ibumu petani kamu harus ingat itu..."

Sayup aku dengar Suara ibuku dengan menahan tangis.

" Andi, tidak peduli...! Pokoknya Andi ingin,  kuliah...!.Andi ingin sukses, biar Andi bisa hidup bahagia tidak seperti sekarang, sengsara.!".

Kedua mataku yang susah di ajak kompromi, pun terpaksa terbelalak saat mendengar bunyi gelas di banting.

" Istifar ..Ger! Apa yang merasuki mu astagfirullah..ya tuhan..hilangkan amarah anakku ini"

Aku bangun duduk tertegun,di pinggir tempat tidur. Rasa kantuk yang masih rindu kepada mataku tak mau pergi sesaat. Kakiku dengan memaksa tubuhku bangkit dan melangkah menuju  ke pintu kamar. Aku mengintip di balik tirai kain pintu.
lukisan samar yang belum jelas wujudnya itu mulai tampak. Ibu menangis,  air mata ibuku menetes membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.paras cantiknya 17 tahun yang lalu sudah di gerogoti waktu, selama 35 tahun tiada ampun menggerus usia manusia.
Di ruang tamu terlihat mas Andi dengan wajah garang berdiri di dekat pintu rumah seperti harimau menahan lapar karena puluhan tahun tidak pernah mendapat buruan. Sedangkan ibuku mengumpulkan pecahan gelas, dimana bumi kering kerontang retak tanpa turun hujan guritan hati ibuku berbisik terpancar dari kedua matanya. Bapakku tidak tampak dalam pandanganku.
"Kenapa harus amarah, menjadi tujuan utama untuk mencapai apa yang di inginkan"
Namun, saat ini Yang paling aku rasakan adalah kehampaan yang mendalam di dalam hatiku, serasa tiadanya harapan, seakan-akan hidupku telah berakhir , terhapus  serta digantikan oleh sesuatu yang buruk.
Rasa simpatikku terhadap mas Andi  perlahan-lahan pudar bersama amarahnya , kenapa  begitu tega berkata kasar kepada orangtua yang melahirkan, merawat dan membesarkanya.
aku keluar kamar melangkah mendekati ibuku yang masih ngumpulin pecahan gelas mencoba membantunya. Kehadiranku membuat mas Andi makin marah.saat aku tatap wajahnya
Mata mas Andi melotot kepadaku, rasanya ingin mencabik-cabik tubuhku lalu di lempar ke sekawanan harimau untuk menikmati tubuhku. Raut ketakutan terpancar di wajahku
fikiranku kacau, seperti gemuruh air mendidih yang segera minta di angkat dari tungku pembakaran.
" Dimana, bapak kenapa bapak tidak ada saat, mas Andi marah-marah yang tidak tahu etika pekerti, apakah karena pergaulan mas Andi yang kurang  baik di sekolah?"
Kata dalam hatiku.

Aku lihat bapakku masuk kerumah dengan nada lembut berwibawa berkata
" Yaa..! kuliah!.
Berjalan menuju ke kursi dan duduk
"biar bapak jual sawah dulu, dan uangnya buat biaya kuliah kamu, bapak dan ibumu Masih sanggup meyekolahkanmu kemana saja."
Aku dan ibuku mendekati bapakku lalu duduk.
" Sabar ..Ger!. Udah buang amarahmu"
" Sudah, Bu.! Kalau Andi mau kuliah mari kita siapkan biayanya..Kita hanya dapat titipan dari Allah. Merawat dan mendidiknya, Selain itu biar Allah yang mengurus"
***
Aku menyadari kata bijaksana adalah hal untuk menyikapi setiap persoalan yang ada. Sosok pemimpin yang bijaksana dalam memberikan keputusan adalah hal yang harus di lakukan. Tentang bagaimana keputusan itu akan berdampak pahit atau manis itu tergantung kita menyikapinya.
Bagiku bapak adalah pemimpin yang bijaksana,memberikan Lingkaran Kepercayaan kepada mas Andi.
Mas Andi setelah di berikan kepercayaan untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, mas Andi begitu semangat mengurus semuanya.hasil lelah mas Andi berbuah manis , mas Andi di terima di universitas ternama di Jakarta, universitas Indonesia. Mas andi kuliah di Jakarta!, Ibu kota Indonesia. Konon cerita dari temanku Anita ,Jakarta kota yang tidak pernah tidur kota yang indah, kota yang paling sibuk dan paling macet. Ada rasa senang tersendiri mendengar mas Andi bisa kuliah di kota Jakarta. Tapi bila teringat mas Andi marah-marah kepada ibu, ada rasa Berbagai emosi berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku. Bingung. Penasaran. Panik. Ketakutan, tapi aku harus mampu membuang bayangan ketakutanku.
Mas Andi dan empat temanya duduk di teras rumah.ibuku, dan bapakku sangat ceria melihat anaknya mau berangkat kejakarta untuk menuntut ilmu.aku duduk di depan pintu.
" Kalau di Jakarta hati-hati, jangan lupa sholat dan berdoa , kirim kabar kepada ibu dan bapakku"
" Iya,bu,!. Andi akan kirim surat buat bapak dan ibu.andi minta doanya agar Andi di Jakarta selamat bisa wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang baik"
" Yo.. tentu tho,Ger! Itu sudah tugas orangtua bener tho,bune?"
Ibuku tersenyum sambil memandang wajah bapakku.
" Kalian selama kuliah di Jakarta tinggal dimana ,nanti?"
Pertanyaan polos bapakku yang tidak pernah melihat kota jakarta.aku juga belum pernah menginjakkan kakiku di ibu kota.
" Bapak, ibu,..maaf kami berlima harus berangkat....jangan pikirkan saat Andi di Jakarta. Kita tinggal bersama di rumah om saya" sela Budi
Senyum kedua orangtuaku semakin lebar, mas Andi dan ke empat temanya pun mulai berkemasan. Lalu menuju ke mobil yang parkir di pinggir jalan depan rumahku.mobil yang bagus mobil yang mahal harganya.ibu, bapak dan aku berdiri di sebelah mobil saat mas Andi dan keempat temanya udah masuk di mobil.
" Putro, jaga bapak dan ibu di rumah.ingat bantu mereka"
Pesan mas Andi padaku.
Aku tersenyum kepada mas Andi terlihat wajahnya berbinar laksana langit berbintang bersinar terang rembulan dan bintang-bintang ikut meramaikan keindahan malam.mas Andi dan temanya mengucapkan salam.
Mobil pun mulai bergerak pelan meninggalkan kami.

Pendidikan, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya itu penting untuk bekal hidup yang akan datang,karena kehidupan sekarang , pasti berbeda dengan kehidupan yang akan datang . Waktu akan merubah zaman.
Setelah keberangkatan mas Andi kejakarta kedua orang tuaku makin rajin mencari tambahan uang.ibuku buruh ngoyos di tempat orang ,sedangkan bapakku juga nyangkul sawah milik orang lain.selesai buruh di tempat orang lain tidak lupa orangtuaku mengurusi sawahnya yang tinggal sepetak karena sudah di jual buat biaya kuliah mas Andi. walau sawah tinggal sepetak ukuran 200m2  lumayan buat hidup.
Wajah lelah kedua orangtuaku makin terlihat.saat bapak dan ibuku duduk di ruang tamu sambil kaki mereka di pijit sendiri.
Terang lampu bohlam 5 whatt membiasakan ke segala penjuru ruang tamu. Aku membawakan teh manis kesukaan kedua orangtuaku dan aku pun duduk di samping ibuku menawarkan diri untuk memijit punggung ibuku, dengan tersenyum dan mengusap rambutku, ibuku membalikan badannya .aku mulai memijat punggung ibuku yang kurus.terasa sekali kulit dan tulang dalam genggamanku.
" Bapak, jga mau ,put! Badan bapak kaku semuanya"
Suara bapakku membuka obrolan.
" Injeh,pak"
" Kamu, mau ngelanjutin sekolah dimana nanti, Ger?. Di SMK atau SMU"
" Ga tahu,Bu!, Kan belum di umumkan kelulusanya, Putro lulus atau tidak?"
" Kamu lho, Ger- Ger bisa saja bikin guyu wong tuamu, pasti lulus kamu ,Ger!. Kalau lulus sekolah kejuruan saja kayak masmu Andi biar bisa kuliah ke Jakarta"
" Jeh,Pak !. Intinya Putro minta doanya sama ibu dan bapak."
" Sudah, ger! . Ganti bapakmu pijit."
Ibuku memintaku untuk berhenti memijit.kini aku mulai memijit punggung bapakku.
Rintik gerimis mulai terdengar di telingaku.tiada angin yang berdesir,tiada petir yang menggelegak,suara katak bernyanyi bersautan menyambut rintik hujan yang membasahi kaki kaki bumi.


***

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar