Minggu, 20 Mei 2018

Novel Lanjutan You Are My Life

Bab III

"Apakah kamu pernah berfikir memaksakan kehendak akan melukai perasaan seseorang. Menolak pemberian seseorang yang ikhlas akan melukai jiwanya"
Jalanan kampung kandangmas masih di dominasi batu dan tanah.jalanan agak becek karena semalam habis turun hujan.terlihat beberapa anak sd sedang berangkat kesekolah sepatunya di tenteng karena takut kotor. Nampak rombongan ibu-ibu sedang membawa gendongan karung dan bapak-bapak juga sedang mengendong cangkul di pundaknya.suasana kampung yang elegan kurang pembangunan.
Sebuah mobil sedan sedang merayab pelan menelusuri jalan kampung.orang orang yang melihat laju mobil sedan pun menepi untuk memberi jalan.
" Mobile Dipo Yo, yu kok apik tenan"
" Yo ,emboh tidak tahu, mau kemana mobil apik ko Reng kampung''
Obrolan ibu-ibu yang sedang berhenti di pinggir jalan saat mobil sedan itu bergerak melewati mereka berdua.
Tapi mobil sedan itu pun berhenti.
" Mandek yu, mobile!"
Pembicaraan salah satu ibu-ibu.
Pintu mobil di buka dari dalam, Anita keluar dari mobil.dan dia mencari jalan yang tidak berair lalu melangkah menuju ibu-ibu yang masih berdiri di pinggir jalan.
" Ayu tenan bocah wedok Iki"
" Mau kemana cantik-cantik ko kekampung, lurus opo?'"
" Assalamu'alaikum, ibu! Numpang tanya, rumah Putro masih jauh ga?"
Anita dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam" jawaban ibu-ibu yang di temui Anita
" Oh, mau ketempatnya, nak Putro?"
Jawaban salah satu ibu di pinggir jalan
" Putro!,sopo tho, yu?"
" Itu lho,anak pak Darto ibu Darmi bocahe seng bagus iku"
" Oalah, anakku yu Darmi, tho! Kakaknya yang kuliah di Jakarta"
" Iyo"
" Masih jauh,Bu?"
" Endak jauh ,dhuk!. Didepan ada pertigaan belok ke kiri terus ada tiga rumah, nah!.sebelahnya itu rumahnya ada pohon mangganya"
" Masih, Bu! "
Anita dengan ramah lalu dia menuju ke mobilnya lagi masuk dan pintu di tutup.
" Gimana non, benar ini kampungnya?"
Tanya sopir Anita
" Benar,pak! Kita lurus di depan ada pertigaan terus belok ke kiri rumah yang keempat kita berhenti"
" Siap!"
Pak Tarno supir pribadi Anita sejak Anita sekolah taman kanak-kanak.
Mobil pun mulai bergerak menelusuri jalan berbatu yang agak berlumpur.
***
Aku sedang menyapu halaman . membersihkan daun- daun mangga yang jatuh dengan sapu lidi. Sedangkan Yusuf dan Yuni sedang asek duduk di depan teras rumah.
Yusuf senyum sendiri melihat tingkah Yuni karena handphonenya selalu bersuara" Veronika".kelihatan sebel di muka Yuni.
" Veronika keren ya namanya selalu di sebut" sambil cekikikan
" Yee...! " Kepalan tangan Yuni mendarat di punggung Yusuf.
"Aduh!" Menggosok-gosok pundaknya
" Mau,lagi?"
Yuni mengacungkan kepalan tangannya ke Yusuf.
 Aku datang sambil membawa sapu
" Ini, tomboy! pakai sapu."
Aku memberikan sapu kepada Yuni
" Eeeettt...! Bercandanya mantap" Yusuf berdiri lalu melangkah menjauhi Yuni dan berdiri di tiang teras.
Aku dan Yuni tertawa ringan.
" Nah itu dia"
Aku dan Yuni melihat mobil sedan merah maron berhenti di belakang mobil milik Yusuf.
" Pantesan di telpon, Veronika Mulu"
Yuni berdiri dan langsung bergegas menuju halaman.
" Bidadarimu datang, Putro"
Menyenggol badanku.
Aku lalu menyusul Yuni dan Yusuf mengikuti kursus dari belakang.
" Ngapain kesini, nit..nit?"
Kataku dalam hati.
" Pak tarno disini , jangan kemana-mana"
"siap!"
" Handphonemu, kenapa susah di hubungi?, Bikin sumpek tahu!"
Yuni langsung nyerocos
Anita membuka tasnya dan diambil handphonenya
" Hehehehe..maaf ..tomboy lupa nyalain tadi habis di cas"
" Mari,Nita! Masuk "
" Makasih, Putro"
Anita tersenyum senang ribuan bidadari sedang menaburkan bunga melati dan mendendangkan pujian kepada semesta alam.
Kita berempat pun menuju keteras.
" Silahkan duduk, Nita."
Nita memandangi keadaan rumah Putro.
" Beginilah rumahku, maklum rumahnya jelek, anak seorang  petani"
" Ga, jelek! Bagus menurutku. Enak. Ga tahu pokoknya asek, ga salah bila aku suka kamu"
Aku terkejut dan mengerutkan dahiku sambil tersenyum dan Anita menutup mulutnya sama telapak tangannya, aku lirik Yuni pun tertawa tapi di tahan dan Yusuf menyengol badanku.
" Sebentar, aku tak buat minuman"
Aku lalu masuk kerumah.
Anita melihat bingkisannya masih di meja
" Kenapa!" Menatap Yuni
" Tenang,Don not emosi dulu ,cantik" Yuni tersenyum
" Teeeruss?"
" Heehhhh!, Susah jelasinnya tar kamu kasih sendiri. titik!"
" Tenang!, Kita kasih ruang buatmu,nit!"
Sela Yusuf
" Tomboy!. Yuk, kita ke dapur saja"
Yuni pun langsung berdiri
" Yuk!"
" Heehhhh mau kemana ,kalian?.terus aku, gimana?"
" Bodo!"
Jawaban Yuni ketus. Yusuf tertawa kecil terus mereka pun masuk kerumah.di ruang tamu aku bertemu dengan mereka berdua saat aku membawa teh
" Mau kemana kalian"
" Mau menghabiskan masakan ibu Darmi, dah urus sendiri pacarmu"
Jawaban ketus Yuni .aku geleng-gelengkan kepala terus keluar rumah menuju ketempat Anita duduk. Teh aku taruh di meja.dan bingkisan pemberian Anita aku beresin dan aku taruh di kursi yang kosong.
" Monggo di minum tehnya,nit!"
" Makasih"
Aku duduk di depan anita.aku lihat Anita sedang minum teh buatanku.aku pandangi wajah Anita  yang anggun,putih kulitnya rambutnya yang hitam bergelombang di kelabang dua dan bando warna pink bergambar bintang-bintang menjadi keindahan tersendiri dalam hiasan kecantikan kaum hawa.kedua mata kami pun bertemu sesaat.lalu aku cepat-cepat memandang bunga melati yang sedang mekar.
" Enak, pas ga manis "
" Ibuku yang mengajarkanku,nit"
" Ooohh!, Terus orang tuamu, mana?.kok aku ga di kenalkan"
" Mereka lagi buruh tanam di sawah pak RT"
Anita manggut-manggut. Aku lihat kedua matanya melihat bingkisan yang berada di sebelahku lalu aku ambil bingkisan tersebut dan aku pangku
" Maaf, nit! Apa ini ga berlebihan menurutku"
" Tidak!"
"Sitomboy dan si Yusuf yang aku ajak buat beli itu semua"
" Tapi ini..?"
" Baiklah.bila kamu ga menerima apa yang aku berikan padamu, ga masalah,"
Anita sambil berdiri dan aku menaruh bingkisan yang ada di pangkuanku ke meja lalu aku berdiri
" aku tak pulang, dan aku tidak akan sekali-kali menyebut namamu "
Dengan nada mengancam
" Lho, gimana tho! Kok marah kelihatanya.duduk dulu tehnya juga belum habis.tolong dengarkan aku dulu"
Anita duduk kembali terlihat senyum di bibirnya
" Aku mau menerima pemberianmu tapi aku harus ijin ibuku dan bapakku dulu"
" Ijin dengan orang tuamu, dulu!"
Dengan nada terkejut
" Jangan salah faham dulu, nit!. pemberianmu bila di nilai dengan uang jutaan,nit! Orangtuaku saja belum pernah pegang uang jutaan"
Aku mencoba memberikan pengertian kepada Anita dan akhirnya pun Anita mengerti dan memahami apa yang aku inginkan.kami berdua ngobrol entah berapa lama kami ngobrol berdua pak Darto sopir Anita pun datang
" Maaf. Non ada telepon dari bapak,tapi ga saya angkat.terus bapak sms.emang handphone non ,tidak di nyalain"
"Bila bapak telpon lagi bilang saja aku di rumah Yuni, masih banyak tugas untuk kepanitiaan pembagian ijasah"
" Maaf, nit! Tidak baik berbohong sama orang tua"
Pak Darto memandang Anita dan aku lihat Anita manyun ada sesuatu yang di pikirkan.kakinya bergerak maju mundur menggosok lantai tanah terasku.
Pak Darto tersenyum padaku dan memangutkan kepalanya memberikan pesan isyarat padaku.
" Tapi kata ibu, berbohong boleh untuk kebaikan orang lain"
" Ya udah non,nanti bapak bila telpon lagi aku sampai seperti ucapan non,Nita yang cantik"
Anita tersenyum,lalu pak Darto beranjak pergi.gelap kembali tak tampak dalam pandanganku di wajah Anita yang ada sinar bahagia yang semu atau bahagia yang hakiki aku belum jelas bisa menafsirkannya.
Terdengar suara obrolan dari ruang tamu membicarakan aku.
" Aku yakin, si sundel ga jadi,kesawah"
" Iya, tomboy.Aku jga ga yakin"
Aku tersenyum
" Kalau kamu ke sawah boleh ikut,ga?"
" Kesawah,ikut!.Nita ikut kesawah?"
"Eeemm" manggut.
" Jangan!.tar kamu item lho.panas di sawah"
"   kulitmu,Kenapa ga hitam ?"
Sepatu Anita di lepas
" Kok,sepatumu di lepas?"
" Kesawah ikut, kamu!"
Dengan pandangan manja.aku pun tersenyum.
" Ya wes, bila hitam resiko,lho"
Aku membereskan gelas dan membawa bungkusan pemberian Anita masuk. Yuni dan Yusuf berhenti tertawa saat aku masuk
" Jadi kesawah ?"
" Mau ikut?"
Aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian
" Aku ikut,mau nginep disini orang tuaku lagi ke Surabaya"
Suara yuni
Aku keluar kamar dengan mengenakan kaos, celana pendek dan topi,
" Bawa ganti ga kalau nginep?"
" Yo..aa" Yuni berdiri dan menuju ke kamarku aku tahan langkah dia dan aku tunjukan ke kamar ibuku.sedangkan Yusuf dan aku pun keluar. Aku lihat Anita lagi bicara sama pak Darto. Kami berdua pun mendatanginya.
" Si tomboy ga ikut?"
" Lagi ganti pakaian"
Jawab Yusuf kepada Anita.
" Mana, cangkulmu.ga bawa cangkul?"
Aku tertawa kecil.
" Ada di gubuk sawah cangkulnya"
"Ohhhh!"
Yuni pun datang menghampiri kami ,kami berpamitan kepada pak Darto lalu kami pergi menuju ke sawah.
***













Tidak ada komentar:

Posting Komentar