Minggu, 20 Mei 2018

Novel lanjutan You Are My Love

Bab II

"Bukan Beban berat bagiku, memutuskan tentang hidupku, masa depanku di masa yang akan datang."
Selesai sholat shubuh, masih mengenakan sarung dan peci aku keluar kamar. Aku lihat Orangtuaku sudah siap untuk bekerja di sawah milik pak RT .
" Untuk sarapan udah ibu siapkan, mungkin aku  dan bapak mu pulang sore sebab sawahnya pak RT jauh"
Mereka berdua membuka pintu rumah, aku mengikutinya dari belakang dan aku berhenti di teras rumah. bapakku menuntun sepeda tuanya lalu menaikinya dan ibuku membonceng di belakang.pelan, tapi pasti bapak dan ibuku hilang di telan kabut pagi.
Udara yang masih dingin dan lembab, gelap pun masih menyelimuti bumi,burung - burung enggan berkicau karena kedinginan.
Aku kembali masuk kedalam rumah.nyala lampu 5 whatt aku matikan lalu menuju ke dapur. Mataku tertuju kemeja makan yang ditutupi kerudung plastik.
Aku mendekat dan duduk di kursi kayu lalu membukanya kerudung plastik di atas meja.
Harum...aroma masakan ibuku, tempe semur, sambel terasi dan nasi liwet. Sedap untuk di santap. Aku tutup kembali  dengan kerudung plastik. Aku pandangi dapur terlihat kayu masih membara asap mengepul tipis.di tempat cucian piring yang hanya bak plastik aku lihat tidak ada cucian piring . Aku lihat lantai dapur pun sudah bersih.aku menarik nafas pelan. Lalu aku sandarkan kepalaku dengan meja makan dan memejamkan mata.
Entah berapa lama aku tertidur di dapur,
Telingaku mendengar namaku di panggil - panggil beberapa kali dan pintu rumah di ketok- ketok.
"Putrooo..."
" Put..!"
aku pun bangkit dan melangkah meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah dan menghampiri pintu.pintu aku buka, suara khas pintu  " kheeeekkk" saat di buka.
Aku terkejut melihat kehadiran Yuni dan Yusuf kerumahku. Keterkejutanku karena mereka berdua datang kerumahku pagi buta. Belum sempat aku ucapkan salam
Celetuk Yuni sambil bibirnya manyun.
" Kenapa,heran?"
" Lama, kali bukanya!"
Yusuf menarik tanganku keluar rumah dan menariku ke bangku bambu di teras rumah. Yuni pun ikut duduk.
" Sepagi ini kalian ,berdua?"
" Udah ga usah punya pikiran macam-macam kamu,put!"
Sela Yuni sambil matanya melotot.aku pun tersenyum salah tingkah.
" Jangan banyak tanya.jangan heran dan berfikir aneh-aneh tentang kita berdua"
Yusuf menjelaskan
" Betul.!, Kami datang sepagi ini, itu hanya untuk, kamu"
Tempeleng  tangan yuni mendarat di kepalaku, aku pun membetulkan peciku.
Yuni dan Yusuf teman sekolah sejak kelas 1 sampai sekarang mau lulus mereka berdua salalu satu kelas.
Walau Yuni yang tomboy , kasar  tapi hatinya baik. Tapi Yusuf tipe cowok yang lebay.
Aku lihat Yuni mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Dan menunjuk mukakku dan muka Yusuf memberikan isyarat untuk diam. handphone Yuni tidak  seperti biasanya di pakai. Mungkin handphone baru, tentunya mahal. Kataku dalam hati.
Tiba-tiba handphone yang di pegang Yuni berdering , nada deringnya sangat beda lagu milik Iwan fals menjadi nada dering kalau gak salah judulnya " entah" Yuni memencet tombol dan volume  speaker dibesarkan
" Halo, tomboy" suara dalam handphone
Suara itu ga asing bagiku suara Anita teman sekelas saat aku kelas satu
" hallo, juga cantik." Jawab Yuni
" Gimana sudah di kasih tahu belum sama si Putro sundel itu.?"
Dahiku mengkerut saat aku di anggap sundel oleh Anita.
" Belum! "
" Pokoknya, gimana caramu harus dia mau dan ga bisa untuk menolak dan apa pun alasannya dia harus ikut kamu, oke, tomboy!"
" Beres, cantik! , Si sundel udah ada dalam jaring"
" Assalamu'alaikum"
Handphone pun mati. Yuni dan Yusuf tersenyum kearahku. Tanda tanya besar yang ada dalam hatiku
" Tidak-tidak," aku berdiri
" Kalian,mau ngapain?"
" Duduk dulu " bajuku di tarik paksa oleh Yusuf dan aku pun terduduk kembali.
" Suf.!, Ambil titipannya Anita"
" Siap"
Yusuf berdiri dan pergi menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan depan rumah.
" Kamu, diam dan ikuti apa yang aku inginkan" Yuni berdiri dan mendekatiku.
" Bila kamu gak mau,"
Tangganya Yuni mengambil kupingku dan di puntir terus di tarik. Aku menjerit sakit karena ada rasa panas di telingaku. Yusuf datang membawa bungkusan sambil tertawa melihatku kesakitan.
" Ikuti, kita maka hidupmu ga sengsara..hehehe"
Sambar Yusuf sambil Menaruh bungkusan diatas meja.
" Yo..Yo..Yo.. ,aku ikuti apa kata kalian. yang penting, satu! . tidak melanggar norma,etika dan hukum"
Yuni dan Yusuf tersenyum
" Udah gak usah banyak ngomong silahkan terima bungkusan dari Anita dan setelah itu cepet dandan lalu kita jalan"
Tutur Yuni dengan tegas.
Aku buka bingkisan yang berada di atas meja.perasaanku tidak enak, aku terperangah melihat isi bungkusan dari anita,ada handphone,terus ada baju kemeja,celana jins dan sepatu lengkap dengan kaos kakinya.
" Emmhhh!"
" Kenapa?"
Pertanyaan dari Yuni
Aku lihat wajah yusuf, Yusuf hanya tersenyum dan manggutkan kepalanya.
" Kita berdua dan Anita yang pilih buat kamu,put!"
Aku mendesah panjang bingung apa yang harus aku katakan pada Yuni, Yusuf dan Anita. Pandanganku kosong seperti lapisan tanah yang mulai retak pelan-pelan karena terbakar panasnya sinar matahari ribuan hari.
"Duttttt..."
Suara kentut Yusuf dan baunya seperti telur busuk membuatku tersentak hilang pandanganku menjadi fokus kembali.
" Kentut ,tidak permisi"
Tangan Yuni menempeleng  kepala Yusuf
" Maaf, aku mw kebelakang dulu"
Aku tersenyum. Yusuf memutarkan tubuhnya bergegas menuju ke dalam rumah. Aku pandangi wajah Yuni
" Yun. Maaf aku tahu kalian semuanya sayang padaku,kamu dan Yusuf teman baikku, tapi ini "
Aku menunjuk ke bingkisan yang ada di atas meja
" Terlalu berlebihan, kasih tahu ke Anita aku tidak bisa menerimanya."
" Kenapa, put!.kamu tidak suka ?"
" Aku suka.tapi kelihatan nya ini terlalu mahal menurutku,Yun".
Yuni menarik nafas dalam-dalam.
" Baiklah, beri alasan yang tepat buat aku, agar aku bisa ngasih tahu Anita. Dan biar kamu tahu, Anita itu suka kamu,put!"
Kaget juga ternyata Anita selama ini suka padaku.tapi itu tak anggap wajar dan aku ga gede rasa di cintai wanita cantik.aku memberikan penjelasan kepada Yuni, panjang lebar, dan si Yusuf sudah bergabung kembali dengan kami.
" Bila jalan dengan dan kita pergi ke tempat Anita aku tidak bisa, karena aku harus ke sawah, bantu orang tuaku, kalian lihat sendiri tho, bapak dan ibuku tidak di rumah, karena mereka harus cari uang tambahan buat biaya kuliah kakakku Andi"
" Mas Andi kuliah?"
Tanya Yusuf
Aku manggut.
" Aku harus ke sawah buat gantiin bapak jadi maaf Yuni,Yusuf aku tidak bisa ikut kalian ke rumah Anita"
Aku lihat Yuni memencet handphone dan di dekatkan di telinganya dalam hatiku pasti dia telpon anita
" Hallo, Putro tidak bisa datang karena dia harus kesawah, intinya banyak ceritanya.
Ya..! Ya..!"
Handphone pun mati.yuni tersenyum
" Gimana, tomboy?"
Itulah panggilan Yusuf ke Yuni
"Beres ga ada masalah, masalahnya perutku lapar belum sarapan, "
Sambil ngelus- ngelus perutnya.
"Tomboy!, Di dapur ada masakan yang lezat, lho "
" Betulkah?"
Yusuf manggut, Yuni langsung berdiri dan masuk rumah, Yusuf pun ikut juga
" Hay..kalian ga jadi pergi..gimana aku bisa ke sawah"
Aku juga pergi ngikutin mereka.
Di dapur Yuni dan Yusuf ambil piring sendiri dan langsung menuju ketempat makan, Yuni dan Yusuf udah biasa di rumahku bapak ibuku bila mereka berdua main di tempatku tempatku jadi gaduh.
Dengan lahap sekali mereka berdua sarapan.
" Kamu ga sarapan?'"
Tanya Yuni
" Ayo, Putro sarapan dulu anggap rumah sendiri,"
Kami pun tertawa, aku ambil piring lalu gabung dengan mereka berdua, nasi, semur tempe dan sambel sudah berada di piringku, setelah berdoa aku santap masakan ibuku.
" Seandainya ibuku seperti ibu Yanti..tiap hari aku makan enak"
Celoteh Yuni setiap makan masakan ibuku selalu kata itu yang keluar dari bibirnya.aku sangat bersyukur memiliki ibu seperti ibu Darmi
***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar