Bab III
"Apakah kamu pernah berfikir memaksakan kehendak akan melukai perasaan seseorang. Menolak pemberian seseorang yang ikhlas akan melukai jiwanya"
Jalanan kampung kandangmas masih di dominasi batu dan tanah.jalanan agak becek karena semalam habis turun hujan.terlihat beberapa anak sd sedang berangkat kesekolah sepatunya di tenteng karena takut kotor. Nampak rombongan ibu-ibu sedang membawa gendongan karung dan bapak-bapak juga sedang mengendong cangkul di pundaknya.suasana kampung yang elegan kurang pembangunan.
Sebuah mobil sedan sedang merayab pelan menelusuri jalan kampung.orang orang yang melihat laju mobil sedan pun menepi untuk memberi jalan.
" Mobile Dipo Yo, yu kok apik tenan"
" Yo ,emboh tidak tahu, mau kemana mobil apik ko Reng kampung''
Obrolan ibu-ibu yang sedang berhenti di pinggir jalan saat mobil sedan itu bergerak melewati mereka berdua.
Tapi mobil sedan itu pun berhenti.
" Mandek yu, mobile!"
Pembicaraan salah satu ibu-ibu.
Pintu mobil di buka dari dalam, Anita keluar dari mobil.dan dia mencari jalan yang tidak berair lalu melangkah menuju ibu-ibu yang masih berdiri di pinggir jalan.
" Ayu tenan bocah wedok Iki"
" Mau kemana cantik-cantik ko kekampung, lurus opo?'"
" Assalamu'alaikum, ibu! Numpang tanya, rumah Putro masih jauh ga?"
Anita dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam" jawaban ibu-ibu yang di temui Anita
" Oh, mau ketempatnya, nak Putro?"
Jawaban salah satu ibu di pinggir jalan
" Putro!,sopo tho, yu?"
" Itu lho,anak pak Darto ibu Darmi bocahe seng bagus iku"
" Oalah, anakku yu Darmi, tho! Kakaknya yang kuliah di Jakarta"
" Iyo"
" Masih jauh,Bu?"
" Endak jauh ,dhuk!. Didepan ada pertigaan belok ke kiri terus ada tiga rumah, nah!.sebelahnya itu rumahnya ada pohon mangganya"
" Masih, Bu! "
Anita dengan ramah lalu dia menuju ke mobilnya lagi masuk dan pintu di tutup.
" Gimana non, benar ini kampungnya?"
Tanya sopir Anita
" Benar,pak! Kita lurus di depan ada pertigaan terus belok ke kiri rumah yang keempat kita berhenti"
" Siap!"
Pak Tarno supir pribadi Anita sejak Anita sekolah taman kanak-kanak.
Mobil pun mulai bergerak menelusuri jalan berbatu yang agak berlumpur.
***
Aku sedang menyapu halaman . membersihkan daun- daun mangga yang jatuh dengan sapu lidi. Sedangkan Yusuf dan Yuni sedang asek duduk di depan teras rumah.
Yusuf senyum sendiri melihat tingkah Yuni karena handphonenya selalu bersuara" Veronika".kelihatan sebel di muka Yuni.
" Veronika keren ya namanya selalu di sebut" sambil cekikikan
" Yee...! " Kepalan tangan Yuni mendarat di punggung Yusuf.
"Aduh!" Menggosok-gosok pundaknya
" Mau,lagi?"
Yuni mengacungkan kepalan tangannya ke Yusuf.
Aku datang sambil membawa sapu
" Ini, tomboy! pakai sapu."
Aku memberikan sapu kepada Yuni
" Eeeettt...! Bercandanya mantap" Yusuf berdiri lalu melangkah menjauhi Yuni dan berdiri di tiang teras.
Aku dan Yuni tertawa ringan.
" Nah itu dia"
Aku dan Yuni melihat mobil sedan merah maron berhenti di belakang mobil milik Yusuf.
" Pantesan di telpon, Veronika Mulu"
Yuni berdiri dan langsung bergegas menuju halaman.
" Bidadarimu datang, Putro"
Menyenggol badanku.
Aku lalu menyusul Yuni dan Yusuf mengikuti kursus dari belakang.
" Ngapain kesini, nit..nit?"
Kataku dalam hati.
" Pak tarno disini , jangan kemana-mana"
"siap!"
" Handphonemu, kenapa susah di hubungi?, Bikin sumpek tahu!"
Yuni langsung nyerocos
Anita membuka tasnya dan diambil handphonenya
" Hehehehe..maaf ..tomboy lupa nyalain tadi habis di cas"
" Mari,Nita! Masuk "
" Makasih, Putro"
Anita tersenyum senang ribuan bidadari sedang menaburkan bunga melati dan mendendangkan pujian kepada semesta alam.
Kita berempat pun menuju keteras.
" Silahkan duduk, Nita."
Nita memandangi keadaan rumah Putro.
" Beginilah rumahku, maklum rumahnya jelek, anak seorang petani"
" Ga, jelek! Bagus menurutku. Enak. Ga tahu pokoknya asek, ga salah bila aku suka kamu"
Aku terkejut dan mengerutkan dahiku sambil tersenyum dan Anita menutup mulutnya sama telapak tangannya, aku lirik Yuni pun tertawa tapi di tahan dan Yusuf menyengol badanku.
" Sebentar, aku tak buat minuman"
Aku lalu masuk kerumah.
Anita melihat bingkisannya masih di meja
" Kenapa!" Menatap Yuni
" Tenang,Don not emosi dulu ,cantik" Yuni tersenyum
" Teeeruss?"
" Heehhhh!, Susah jelasinnya tar kamu kasih sendiri. titik!"
" Tenang!, Kita kasih ruang buatmu,nit!"
Sela Yusuf
" Tomboy!. Yuk, kita ke dapur saja"
Yuni pun langsung berdiri
" Yuk!"
" Heehhhh mau kemana ,kalian?.terus aku, gimana?"
" Bodo!"
Jawaban Yuni ketus. Yusuf tertawa kecil terus mereka pun masuk kerumah.di ruang tamu aku bertemu dengan mereka berdua saat aku membawa teh
" Mau kemana kalian"
" Mau menghabiskan masakan ibu Darmi, dah urus sendiri pacarmu"
Jawaban ketus Yuni .aku geleng-gelengkan kepala terus keluar rumah menuju ketempat Anita duduk. Teh aku taruh di meja.dan bingkisan pemberian Anita aku beresin dan aku taruh di kursi yang kosong.
" Monggo di minum tehnya,nit!"
" Makasih"
Aku duduk di depan anita.aku lihat Anita sedang minum teh buatanku.aku pandangi wajah Anita yang anggun,putih kulitnya rambutnya yang hitam bergelombang di kelabang dua dan bando warna pink bergambar bintang-bintang menjadi keindahan tersendiri dalam hiasan kecantikan kaum hawa.kedua mata kami pun bertemu sesaat.lalu aku cepat-cepat memandang bunga melati yang sedang mekar.
" Enak, pas ga manis "
" Ibuku yang mengajarkanku,nit"
" Ooohh!, Terus orang tuamu, mana?.kok aku ga di kenalkan"
" Mereka lagi buruh tanam di sawah pak RT"
Anita manggut-manggut. Aku lihat kedua matanya melihat bingkisan yang berada di sebelahku lalu aku ambil bingkisan tersebut dan aku pangku
" Maaf, nit! Apa ini ga berlebihan menurutku"
" Tidak!"
"Sitomboy dan si Yusuf yang aku ajak buat beli itu semua"
" Tapi ini..?"
" Baiklah.bila kamu ga menerima apa yang aku berikan padamu, ga masalah,"
Anita sambil berdiri dan aku menaruh bingkisan yang ada di pangkuanku ke meja lalu aku berdiri
" aku tak pulang, dan aku tidak akan sekali-kali menyebut namamu "
Dengan nada mengancam
" Lho, gimana tho! Kok marah kelihatanya.duduk dulu tehnya juga belum habis.tolong dengarkan aku dulu"
Anita duduk kembali terlihat senyum di bibirnya
" Aku mau menerima pemberianmu tapi aku harus ijin ibuku dan bapakku dulu"
" Ijin dengan orang tuamu, dulu!"
Dengan nada terkejut
" Jangan salah faham dulu, nit!. pemberianmu bila di nilai dengan uang jutaan,nit! Orangtuaku saja belum pernah pegang uang jutaan"
Aku mencoba memberikan pengertian kepada Anita dan akhirnya pun Anita mengerti dan memahami apa yang aku inginkan.kami berdua ngobrol entah berapa lama kami ngobrol berdua pak Darto sopir Anita pun datang
" Maaf. Non ada telepon dari bapak,tapi ga saya angkat.terus bapak sms.emang handphone non ,tidak di nyalain"
"Bila bapak telpon lagi bilang saja aku di rumah Yuni, masih banyak tugas untuk kepanitiaan pembagian ijasah"
" Maaf, nit! Tidak baik berbohong sama orang tua"
Pak Darto memandang Anita dan aku lihat Anita manyun ada sesuatu yang di pikirkan.kakinya bergerak maju mundur menggosok lantai tanah terasku.
Pak Darto tersenyum padaku dan memangutkan kepalanya memberikan pesan isyarat padaku.
" Tapi kata ibu, berbohong boleh untuk kebaikan orang lain"
" Ya udah non,nanti bapak bila telpon lagi aku sampai seperti ucapan non,Nita yang cantik"
Anita tersenyum,lalu pak Darto beranjak pergi.gelap kembali tak tampak dalam pandanganku di wajah Anita yang ada sinar bahagia yang semu atau bahagia yang hakiki aku belum jelas bisa menafsirkannya.
Terdengar suara obrolan dari ruang tamu membicarakan aku.
" Aku yakin, si sundel ga jadi,kesawah"
" Iya, tomboy.Aku jga ga yakin"
Aku tersenyum
" Kalau kamu ke sawah boleh ikut,ga?"
" Kesawah,ikut!.Nita ikut kesawah?"
"Eeemm" manggut.
" Jangan!.tar kamu item lho.panas di sawah"
" kulitmu,Kenapa ga hitam ?"
Sepatu Anita di lepas
" Kok,sepatumu di lepas?"
" Kesawah ikut, kamu!"
Dengan pandangan manja.aku pun tersenyum.
" Ya wes, bila hitam resiko,lho"
Aku membereskan gelas dan membawa bungkusan pemberian Anita masuk. Yuni dan Yusuf berhenti tertawa saat aku masuk
" Jadi kesawah ?"
" Mau ikut?"
Aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian
" Aku ikut,mau nginep disini orang tuaku lagi ke Surabaya"
Suara yuni
Aku keluar kamar dengan mengenakan kaos, celana pendek dan topi,
" Bawa ganti ga kalau nginep?"
" Yo..aa" Yuni berdiri dan menuju ke kamarku aku tahan langkah dia dan aku tunjukan ke kamar ibuku.sedangkan Yusuf dan aku pun keluar. Aku lihat Anita lagi bicara sama pak Darto. Kami berdua pun mendatanginya.
" Si tomboy ga ikut?"
" Lagi ganti pakaian"
Jawab Yusuf kepada Anita.
" Mana, cangkulmu.ga bawa cangkul?"
Aku tertawa kecil.
" Ada di gubuk sawah cangkulnya"
"Ohhhh!"
Yuni pun datang menghampiri kami ,kami berpamitan kepada pak Darto lalu kami pergi menuju ke sawah.
***
Pusat kumpulan novel remaja, novel cinta, novel romantis , puisi dan prosa,cerita pendek yang banyak motifas hidup
Minggu, 20 Mei 2018
Novel lanjutan You Are My Love
Bab II
"Bukan Beban berat bagiku, memutuskan tentang hidupku, masa depanku di masa yang akan datang."
Selesai sholat shubuh, masih mengenakan sarung dan peci aku keluar kamar. Aku lihat Orangtuaku sudah siap untuk bekerja di sawah milik pak RT .
" Untuk sarapan udah ibu siapkan, mungkin aku dan bapak mu pulang sore sebab sawahnya pak RT jauh"
Mereka berdua membuka pintu rumah, aku mengikutinya dari belakang dan aku berhenti di teras rumah. bapakku menuntun sepeda tuanya lalu menaikinya dan ibuku membonceng di belakang.pelan, tapi pasti bapak dan ibuku hilang di telan kabut pagi.
Udara yang masih dingin dan lembab, gelap pun masih menyelimuti bumi,burung - burung enggan berkicau karena kedinginan.
Aku kembali masuk kedalam rumah.nyala lampu 5 whatt aku matikan lalu menuju ke dapur. Mataku tertuju kemeja makan yang ditutupi kerudung plastik.
Aku mendekat dan duduk di kursi kayu lalu membukanya kerudung plastik di atas meja.
Harum...aroma masakan ibuku, tempe semur, sambel terasi dan nasi liwet. Sedap untuk di santap. Aku tutup kembali dengan kerudung plastik. Aku pandangi dapur terlihat kayu masih membara asap mengepul tipis.di tempat cucian piring yang hanya bak plastik aku lihat tidak ada cucian piring . Aku lihat lantai dapur pun sudah bersih.aku menarik nafas pelan. Lalu aku sandarkan kepalaku dengan meja makan dan memejamkan mata.
Entah berapa lama aku tertidur di dapur,
Telingaku mendengar namaku di panggil - panggil beberapa kali dan pintu rumah di ketok- ketok.
"Putrooo..."
" Put..!"
aku pun bangkit dan melangkah meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah dan menghampiri pintu.pintu aku buka, suara khas pintu " kheeeekkk" saat di buka.
Aku terkejut melihat kehadiran Yuni dan Yusuf kerumahku. Keterkejutanku karena mereka berdua datang kerumahku pagi buta. Belum sempat aku ucapkan salam
Celetuk Yuni sambil bibirnya manyun.
" Kenapa,heran?"
" Lama, kali bukanya!"
Yusuf menarik tanganku keluar rumah dan menariku ke bangku bambu di teras rumah. Yuni pun ikut duduk.
" Sepagi ini kalian ,berdua?"
" Udah ga usah punya pikiran macam-macam kamu,put!"
Sela Yuni sambil matanya melotot.aku pun tersenyum salah tingkah.
" Jangan banyak tanya.jangan heran dan berfikir aneh-aneh tentang kita berdua"
Yusuf menjelaskan
" Betul.!, Kami datang sepagi ini, itu hanya untuk, kamu"
Tempeleng tangan yuni mendarat di kepalaku, aku pun membetulkan peciku.
Yuni dan Yusuf teman sekolah sejak kelas 1 sampai sekarang mau lulus mereka berdua salalu satu kelas.
Walau Yuni yang tomboy , kasar tapi hatinya baik. Tapi Yusuf tipe cowok yang lebay.
Aku lihat Yuni mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Dan menunjuk mukakku dan muka Yusuf memberikan isyarat untuk diam. handphone Yuni tidak seperti biasanya di pakai. Mungkin handphone baru, tentunya mahal. Kataku dalam hati.
Tiba-tiba handphone yang di pegang Yuni berdering , nada deringnya sangat beda lagu milik Iwan fals menjadi nada dering kalau gak salah judulnya " entah" Yuni memencet tombol dan volume speaker dibesarkan
" Halo, tomboy" suara dalam handphone
Suara itu ga asing bagiku suara Anita teman sekelas saat aku kelas satu
" hallo, juga cantik." Jawab Yuni
" Gimana sudah di kasih tahu belum sama si Putro sundel itu.?"
Dahiku mengkerut saat aku di anggap sundel oleh Anita.
" Belum! "
" Pokoknya, gimana caramu harus dia mau dan ga bisa untuk menolak dan apa pun alasannya dia harus ikut kamu, oke, tomboy!"
" Beres, cantik! , Si sundel udah ada dalam jaring"
" Assalamu'alaikum"
Handphone pun mati. Yuni dan Yusuf tersenyum kearahku. Tanda tanya besar yang ada dalam hatiku
" Tidak-tidak," aku berdiri
" Kalian,mau ngapain?"
" Duduk dulu " bajuku di tarik paksa oleh Yusuf dan aku pun terduduk kembali.
" Suf.!, Ambil titipannya Anita"
" Siap"
Yusuf berdiri dan pergi menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan depan rumah.
" Kamu, diam dan ikuti apa yang aku inginkan" Yuni berdiri dan mendekatiku.
" Bila kamu gak mau,"
Tangganya Yuni mengambil kupingku dan di puntir terus di tarik. Aku menjerit sakit karena ada rasa panas di telingaku. Yusuf datang membawa bungkusan sambil tertawa melihatku kesakitan.
" Ikuti, kita maka hidupmu ga sengsara..hehehe"
Sambar Yusuf sambil Menaruh bungkusan diatas meja.
" Yo..Yo..Yo.. ,aku ikuti apa kata kalian. yang penting, satu! . tidak melanggar norma,etika dan hukum"
Yuni dan Yusuf tersenyum
" Udah gak usah banyak ngomong silahkan terima bungkusan dari Anita dan setelah itu cepet dandan lalu kita jalan"
Tutur Yuni dengan tegas.
Aku buka bingkisan yang berada di atas meja.perasaanku tidak enak, aku terperangah melihat isi bungkusan dari anita,ada handphone,terus ada baju kemeja,celana jins dan sepatu lengkap dengan kaos kakinya.
" Emmhhh!"
" Kenapa?"
Pertanyaan dari Yuni
Aku lihat wajah yusuf, Yusuf hanya tersenyum dan manggutkan kepalanya.
" Kita berdua dan Anita yang pilih buat kamu,put!"
Aku mendesah panjang bingung apa yang harus aku katakan pada Yuni, Yusuf dan Anita. Pandanganku kosong seperti lapisan tanah yang mulai retak pelan-pelan karena terbakar panasnya sinar matahari ribuan hari.
"Duttttt..."
Suara kentut Yusuf dan baunya seperti telur busuk membuatku tersentak hilang pandanganku menjadi fokus kembali.
" Kentut ,tidak permisi"
Tangan Yuni menempeleng kepala Yusuf
" Maaf, aku mw kebelakang dulu"
Aku tersenyum. Yusuf memutarkan tubuhnya bergegas menuju ke dalam rumah. Aku pandangi wajah Yuni
" Yun. Maaf aku tahu kalian semuanya sayang padaku,kamu dan Yusuf teman baikku, tapi ini "
Aku menunjuk ke bingkisan yang ada di atas meja
" Terlalu berlebihan, kasih tahu ke Anita aku tidak bisa menerimanya."
" Kenapa, put!.kamu tidak suka ?"
" Aku suka.tapi kelihatan nya ini terlalu mahal menurutku,Yun".
Yuni menarik nafas dalam-dalam.
" Baiklah, beri alasan yang tepat buat aku, agar aku bisa ngasih tahu Anita. Dan biar kamu tahu, Anita itu suka kamu,put!"
Kaget juga ternyata Anita selama ini suka padaku.tapi itu tak anggap wajar dan aku ga gede rasa di cintai wanita cantik.aku memberikan penjelasan kepada Yuni, panjang lebar, dan si Yusuf sudah bergabung kembali dengan kami.
" Bila jalan dengan dan kita pergi ke tempat Anita aku tidak bisa, karena aku harus ke sawah, bantu orang tuaku, kalian lihat sendiri tho, bapak dan ibuku tidak di rumah, karena mereka harus cari uang tambahan buat biaya kuliah kakakku Andi"
" Mas Andi kuliah?"
Tanya Yusuf
Aku manggut.
" Aku harus ke sawah buat gantiin bapak jadi maaf Yuni,Yusuf aku tidak bisa ikut kalian ke rumah Anita"
Aku lihat Yuni memencet handphone dan di dekatkan di telinganya dalam hatiku pasti dia telpon anita
" Hallo, Putro tidak bisa datang karena dia harus kesawah, intinya banyak ceritanya.
Ya..! Ya..!"
Handphone pun mati.yuni tersenyum
" Gimana, tomboy?"
Itulah panggilan Yusuf ke Yuni
"Beres ga ada masalah, masalahnya perutku lapar belum sarapan, "
Sambil ngelus- ngelus perutnya.
"Tomboy!, Di dapur ada masakan yang lezat, lho "
" Betulkah?"
Yusuf manggut, Yuni langsung berdiri dan masuk rumah, Yusuf pun ikut juga
" Hay..kalian ga jadi pergi..gimana aku bisa ke sawah"
Aku juga pergi ngikutin mereka.
Di dapur Yuni dan Yusuf ambil piring sendiri dan langsung menuju ketempat makan, Yuni dan Yusuf udah biasa di rumahku bapak ibuku bila mereka berdua main di tempatku tempatku jadi gaduh.
Dengan lahap sekali mereka berdua sarapan.
" Kamu ga sarapan?'"
Tanya Yuni
" Ayo, Putro sarapan dulu anggap rumah sendiri,"
Kami pun tertawa, aku ambil piring lalu gabung dengan mereka berdua, nasi, semur tempe dan sambel sudah berada di piringku, setelah berdoa aku santap masakan ibuku.
" Seandainya ibuku seperti ibu Yanti..tiap hari aku makan enak"
Celoteh Yuni setiap makan masakan ibuku selalu kata itu yang keluar dari bibirnya.aku sangat bersyukur memiliki ibu seperti ibu Darmi
***
"Bukan Beban berat bagiku, memutuskan tentang hidupku, masa depanku di masa yang akan datang."
Selesai sholat shubuh, masih mengenakan sarung dan peci aku keluar kamar. Aku lihat Orangtuaku sudah siap untuk bekerja di sawah milik pak RT .
" Untuk sarapan udah ibu siapkan, mungkin aku dan bapak mu pulang sore sebab sawahnya pak RT jauh"
Mereka berdua membuka pintu rumah, aku mengikutinya dari belakang dan aku berhenti di teras rumah. bapakku menuntun sepeda tuanya lalu menaikinya dan ibuku membonceng di belakang.pelan, tapi pasti bapak dan ibuku hilang di telan kabut pagi.
Udara yang masih dingin dan lembab, gelap pun masih menyelimuti bumi,burung - burung enggan berkicau karena kedinginan.
Aku kembali masuk kedalam rumah.nyala lampu 5 whatt aku matikan lalu menuju ke dapur. Mataku tertuju kemeja makan yang ditutupi kerudung plastik.
Aku mendekat dan duduk di kursi kayu lalu membukanya kerudung plastik di atas meja.
Harum...aroma masakan ibuku, tempe semur, sambel terasi dan nasi liwet. Sedap untuk di santap. Aku tutup kembali dengan kerudung plastik. Aku pandangi dapur terlihat kayu masih membara asap mengepul tipis.di tempat cucian piring yang hanya bak plastik aku lihat tidak ada cucian piring . Aku lihat lantai dapur pun sudah bersih.aku menarik nafas pelan. Lalu aku sandarkan kepalaku dengan meja makan dan memejamkan mata.
Entah berapa lama aku tertidur di dapur,
Telingaku mendengar namaku di panggil - panggil beberapa kali dan pintu rumah di ketok- ketok.
"Putrooo..."
" Put..!"
aku pun bangkit dan melangkah meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah dan menghampiri pintu.pintu aku buka, suara khas pintu " kheeeekkk" saat di buka.
Aku terkejut melihat kehadiran Yuni dan Yusuf kerumahku. Keterkejutanku karena mereka berdua datang kerumahku pagi buta. Belum sempat aku ucapkan salam
Celetuk Yuni sambil bibirnya manyun.
" Kenapa,heran?"
" Lama, kali bukanya!"
Yusuf menarik tanganku keluar rumah dan menariku ke bangku bambu di teras rumah. Yuni pun ikut duduk.
" Sepagi ini kalian ,berdua?"
" Udah ga usah punya pikiran macam-macam kamu,put!"
Sela Yuni sambil matanya melotot.aku pun tersenyum salah tingkah.
" Jangan banyak tanya.jangan heran dan berfikir aneh-aneh tentang kita berdua"
Yusuf menjelaskan
" Betul.!, Kami datang sepagi ini, itu hanya untuk, kamu"
Tempeleng tangan yuni mendarat di kepalaku, aku pun membetulkan peciku.
Yuni dan Yusuf teman sekolah sejak kelas 1 sampai sekarang mau lulus mereka berdua salalu satu kelas.
Walau Yuni yang tomboy , kasar tapi hatinya baik. Tapi Yusuf tipe cowok yang lebay.
Aku lihat Yuni mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Dan menunjuk mukakku dan muka Yusuf memberikan isyarat untuk diam. handphone Yuni tidak seperti biasanya di pakai. Mungkin handphone baru, tentunya mahal. Kataku dalam hati.
Tiba-tiba handphone yang di pegang Yuni berdering , nada deringnya sangat beda lagu milik Iwan fals menjadi nada dering kalau gak salah judulnya " entah" Yuni memencet tombol dan volume speaker dibesarkan
" Halo, tomboy" suara dalam handphone
Suara itu ga asing bagiku suara Anita teman sekelas saat aku kelas satu
" hallo, juga cantik." Jawab Yuni
" Gimana sudah di kasih tahu belum sama si Putro sundel itu.?"
Dahiku mengkerut saat aku di anggap sundel oleh Anita.
" Belum! "
" Pokoknya, gimana caramu harus dia mau dan ga bisa untuk menolak dan apa pun alasannya dia harus ikut kamu, oke, tomboy!"
" Beres, cantik! , Si sundel udah ada dalam jaring"
" Assalamu'alaikum"
Handphone pun mati. Yuni dan Yusuf tersenyum kearahku. Tanda tanya besar yang ada dalam hatiku
" Tidak-tidak," aku berdiri
" Kalian,mau ngapain?"
" Duduk dulu " bajuku di tarik paksa oleh Yusuf dan aku pun terduduk kembali.
" Suf.!, Ambil titipannya Anita"
" Siap"
Yusuf berdiri dan pergi menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan depan rumah.
" Kamu, diam dan ikuti apa yang aku inginkan" Yuni berdiri dan mendekatiku.
" Bila kamu gak mau,"
Tangganya Yuni mengambil kupingku dan di puntir terus di tarik. Aku menjerit sakit karena ada rasa panas di telingaku. Yusuf datang membawa bungkusan sambil tertawa melihatku kesakitan.
" Ikuti, kita maka hidupmu ga sengsara..hehehe"
Sambar Yusuf sambil Menaruh bungkusan diatas meja.
" Yo..Yo..Yo.. ,aku ikuti apa kata kalian. yang penting, satu! . tidak melanggar norma,etika dan hukum"
Yuni dan Yusuf tersenyum
" Udah gak usah banyak ngomong silahkan terima bungkusan dari Anita dan setelah itu cepet dandan lalu kita jalan"
Tutur Yuni dengan tegas.
Aku buka bingkisan yang berada di atas meja.perasaanku tidak enak, aku terperangah melihat isi bungkusan dari anita,ada handphone,terus ada baju kemeja,celana jins dan sepatu lengkap dengan kaos kakinya.
" Emmhhh!"
" Kenapa?"
Pertanyaan dari Yuni
Aku lihat wajah yusuf, Yusuf hanya tersenyum dan manggutkan kepalanya.
" Kita berdua dan Anita yang pilih buat kamu,put!"
Aku mendesah panjang bingung apa yang harus aku katakan pada Yuni, Yusuf dan Anita. Pandanganku kosong seperti lapisan tanah yang mulai retak pelan-pelan karena terbakar panasnya sinar matahari ribuan hari.
"Duttttt..."
Suara kentut Yusuf dan baunya seperti telur busuk membuatku tersentak hilang pandanganku menjadi fokus kembali.
" Kentut ,tidak permisi"
Tangan Yuni menempeleng kepala Yusuf
" Maaf, aku mw kebelakang dulu"
Aku tersenyum. Yusuf memutarkan tubuhnya bergegas menuju ke dalam rumah. Aku pandangi wajah Yuni
" Yun. Maaf aku tahu kalian semuanya sayang padaku,kamu dan Yusuf teman baikku, tapi ini "
Aku menunjuk ke bingkisan yang ada di atas meja
" Terlalu berlebihan, kasih tahu ke Anita aku tidak bisa menerimanya."
" Kenapa, put!.kamu tidak suka ?"
" Aku suka.tapi kelihatan nya ini terlalu mahal menurutku,Yun".
Yuni menarik nafas dalam-dalam.
" Baiklah, beri alasan yang tepat buat aku, agar aku bisa ngasih tahu Anita. Dan biar kamu tahu, Anita itu suka kamu,put!"
Kaget juga ternyata Anita selama ini suka padaku.tapi itu tak anggap wajar dan aku ga gede rasa di cintai wanita cantik.aku memberikan penjelasan kepada Yuni, panjang lebar, dan si Yusuf sudah bergabung kembali dengan kami.
" Bila jalan dengan dan kita pergi ke tempat Anita aku tidak bisa, karena aku harus ke sawah, bantu orang tuaku, kalian lihat sendiri tho, bapak dan ibuku tidak di rumah, karena mereka harus cari uang tambahan buat biaya kuliah kakakku Andi"
" Mas Andi kuliah?"
Tanya Yusuf
Aku manggut.
" Aku harus ke sawah buat gantiin bapak jadi maaf Yuni,Yusuf aku tidak bisa ikut kalian ke rumah Anita"
Aku lihat Yuni memencet handphone dan di dekatkan di telinganya dalam hatiku pasti dia telpon anita
" Hallo, Putro tidak bisa datang karena dia harus kesawah, intinya banyak ceritanya.
Ya..! Ya..!"
Handphone pun mati.yuni tersenyum
" Gimana, tomboy?"
Itulah panggilan Yusuf ke Yuni
"Beres ga ada masalah, masalahnya perutku lapar belum sarapan, "
Sambil ngelus- ngelus perutnya.
"Tomboy!, Di dapur ada masakan yang lezat, lho "
" Betulkah?"
Yusuf manggut, Yuni langsung berdiri dan masuk rumah, Yusuf pun ikut juga
" Hay..kalian ga jadi pergi..gimana aku bisa ke sawah"
Aku juga pergi ngikutin mereka.
Di dapur Yuni dan Yusuf ambil piring sendiri dan langsung menuju ketempat makan, Yuni dan Yusuf udah biasa di rumahku bapak ibuku bila mereka berdua main di tempatku tempatku jadi gaduh.
Dengan lahap sekali mereka berdua sarapan.
" Kamu ga sarapan?'"
Tanya Yuni
" Ayo, Putro sarapan dulu anggap rumah sendiri,"
Kami pun tertawa, aku ambil piring lalu gabung dengan mereka berdua, nasi, semur tempe dan sambel sudah berada di piringku, setelah berdoa aku santap masakan ibuku.
" Seandainya ibuku seperti ibu Yanti..tiap hari aku makan enak"
Celoteh Yuni setiap makan masakan ibuku selalu kata itu yang keluar dari bibirnya.aku sangat bersyukur memiliki ibu seperti ibu Darmi
***
Novel You Are My Life
Bab I
" Apa aku salah.? mengorbankan cita-citaku,demi terwujudnya cita-cita, orang yang aku cintai?"
Aku tidak pernah meminta untuk di lahirkan, dari orangtua yang kaya atau yang miskin.begitu juga orang tuaku, tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk melahirkanku.
Orang tuaku seorang petani, kami dua bersaudara. Mas Andi, kakakku orang paling angkuh dan keras kepala. tapi dia tanggung jawab. Saat orang tuaku ke sawah mas Andi juga membantu. Mas Andi selalu ngajarin aku ngaji, membantuku pekerjaan rumah saat aku tidak bisa, aku sering di ajarkan berbagai macam Budi pekerti yang luhur.Sosok kakak yang bisa di buat contoh dan di kagumi.
Syukur adalah kenikmatan yang sangat luar biasa, rasa syukur itu tidak bisa di lukis dengan kanvas berjuta warna warni dan di tulis dengan rangkaian kata-kata indah untuk menaklukkan hati seorang wanita.
Hidup keluarga kami, aku bilang cukup seukuran petani yang hidup di desa. Karena orang tuaku mampu menyekolahkan aku yang saat ini masih di bangku sekolah kelas 3 menengah pertama tinggal menunggu pengumuman kelulusan,Mas Andi sudah lulus sekolah menengah kejuruan.walau mas Andi di sekolah tidak termasuk murid teladan tapi hasil ujian mas Andi cukup baik.
Mas Andi berambisi ingin menjadi orang sukses, maka mas Andi bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke universitas agar cita-citanya terwujud. Sebagai adik aku bangga dengan kakakku.
Seperti biasa aku membantu orang tuaku di sawah, Karena hari ini libur sekolah.
Adzan dhuhur berkumandang, nama pencipta jagad seisinya menggema di penjuru bumi, semuanya bertasbih menyebutnya.
" Putro..! Ayo kita pulang!
Ajak bapakku.
Aku pun melangkah menuju kepinggir sawah sambil menenteng cangkul. Kaki yang berlumpur pun aku bersihkan.bapakku tersenyum saat wajahnya aku tatap.
" Makanya..belajar yang rajin biar ga jadi petani kayak bapakmu dan ibumu..!"
" Jeh ,pak! Belajar itu kewajiban tho, bapak! Mau kerja pabrik,kantoran,atau tani itu pilihan lho,pak!"
"Anakku dah pinter ngomong..wes ayo dang pulang..masakan ibumu darmi sudah matang kelihatanya .."
Aku dan bapak tertawa bahagia dan kami pun melangkah pulang.
Terik matahari bersinar panas, udara yang agak lembab menetralisir panasnya sang matahari, kami berjalan di pematang sawah. Tanaman padi yang mulai belajar tumbuh, untuk bisa menjadi manfaat setiap manusia.
Rumahku yang sederhana, terbuat dari bambu yang Beratap genteng. halaman rumahku yang tidak terlalu luas, tumbuh pohon mangga mulai berbunga. Di tepi teras tumbuh bunga melati kesukaanku. Bunga melati yang harum putih warnanya makin indah saat kedua mataku melihat, ibuku yang sedang duduk di kursi di teras rumah. Ada 4 Kursi terbuat dari bambu tempat favorit temanku saat pada main kerumahku.
Terlihat jelas senyum ibuku laksana bidadari turun kebumi, karena surga tempatnya sudah penuh, sehingga bidadari ingin menjadi penghuni bumi.bila tuhan mengijinkanya,
Bapakku duduk di kursi. Sambil mengipas-ngipaskan topinya. Aku pun duduk setelah menaruh cangkul dan topiku yang terbuat dari bambu.ibuku menuangkan air putih dari kendi dan di berikan ke bapakku. Bapakku meminum air putih pemberian ibuku, lehernya yg mengkerut dan bunyi tenggorokan yang kehausan, selama ribuan tahun tersirami dengan kasih dari seorang istri.ibuku menyuruh bapak dan aku untuk bersih-bersih. Setelah itu sholat dan makan siang.
***
Lelah memeluk tubuhku habis membantu orang tuaku di sawah. Aku rebahkan tubuhku di tempat tidur yang terbuat dari bambu beralaskan tikar pandan .suara bunyi bambu terdengar saat tubuhku berbaring.
langit- langit kamarku tiada flopon, hanya bambu yang menopang genteng.
beberapa sarang laba-laba menghiasi langit kamarku. Dinding kamarku yang terbuat dari bambu tertempel foto aku mas Andi dan kedua orangtuaku tanpa di bingkai.
Angin yang berdesir masuk melalui jendela dan celah lobang dinding rumah yang terbuat dari bambu.
desiran angin itu berbisik, menyanyikan tentang keindahan alam yang membuat kita terbuai di alam khayalan yang indah.
Mataku mulai terpejam. Angin seolah mendongengkan aku dan hembusanya membelai lembut jiwa-jiwa yang harus kedamaian.
Samar-samar aku dengar keributan di ruang tamu, membuatku terbangun dari mimpi indahku.
" Darimana,ibumu bayar kuliah, Ger,!
Kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi kuliahmu di kota besar di, jakarta.ingat Andi kamu ini orang kampung bapak ibumu petani kamu harus ingat itu..."
Sayup aku dengar Suara ibuku dengan menahan tangis.
" Andi, tidak peduli...! Pokoknya Andi ingin, kuliah...!.Andi ingin sukses, biar Andi bisa hidup bahagia tidak seperti sekarang, sengsara.!".
Kedua mataku yang susah di ajak kompromi, pun terpaksa terbelalak saat mendengar bunyi gelas di banting.
" Istifar ..Ger! Apa yang merasuki mu astagfirullah..ya tuhan..hilangkan amarah anakku ini"
Aku bangun duduk tertegun,di pinggir tempat tidur. Rasa kantuk yang masih rindu kepada mataku tak mau pergi sesaat. Kakiku dengan memaksa tubuhku bangkit dan melangkah menuju ke pintu kamar. Aku mengintip di balik tirai kain pintu.
lukisan samar yang belum jelas wujudnya itu mulai tampak. Ibu menangis, air mata ibuku menetes membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.paras cantiknya 17 tahun yang lalu sudah di gerogoti waktu, selama 35 tahun tiada ampun menggerus usia manusia.
Di ruang tamu terlihat mas Andi dengan wajah garang berdiri di dekat pintu rumah seperti harimau menahan lapar karena puluhan tahun tidak pernah mendapat buruan. Sedangkan ibuku mengumpulkan pecahan gelas, dimana bumi kering kerontang retak tanpa turun hujan guritan hati ibuku berbisik terpancar dari kedua matanya. Bapakku tidak tampak dalam pandanganku.
"Kenapa harus amarah, menjadi tujuan utama untuk mencapai apa yang di inginkan"
Namun, saat ini Yang paling aku rasakan adalah kehampaan yang mendalam di dalam hatiku, serasa tiadanya harapan, seakan-akan hidupku telah berakhir , terhapus serta digantikan oleh sesuatu yang buruk.
Rasa simpatikku terhadap mas Andi perlahan-lahan pudar bersama amarahnya , kenapa begitu tega berkata kasar kepada orangtua yang melahirkan, merawat dan membesarkanya.
aku keluar kamar melangkah mendekati ibuku yang masih ngumpulin pecahan gelas mencoba membantunya. Kehadiranku membuat mas Andi makin marah.saat aku tatap wajahnya
Mata mas Andi melotot kepadaku, rasanya ingin mencabik-cabik tubuhku lalu di lempar ke sekawanan harimau untuk menikmati tubuhku. Raut ketakutan terpancar di wajahku
fikiranku kacau, seperti gemuruh air mendidih yang segera minta di angkat dari tungku pembakaran.
" Dimana, bapak kenapa bapak tidak ada saat, mas Andi marah-marah yang tidak tahu etika pekerti, apakah karena pergaulan mas Andi yang kurang baik di sekolah?"
Kata dalam hatiku.
Aku lihat bapakku masuk kerumah dengan nada lembut berwibawa berkata
" Yaa..! kuliah!.
Berjalan menuju ke kursi dan duduk
"biar bapak jual sawah dulu, dan uangnya buat biaya kuliah kamu, bapak dan ibumu Masih sanggup meyekolahkanmu kemana saja."
Aku dan ibuku mendekati bapakku lalu duduk.
" Sabar ..Ger!. Udah buang amarahmu"
" Sudah, Bu.! Kalau Andi mau kuliah mari kita siapkan biayanya..Kita hanya dapat titipan dari Allah. Merawat dan mendidiknya, Selain itu biar Allah yang mengurus"
***
Aku menyadari kata bijaksana adalah hal untuk menyikapi setiap persoalan yang ada. Sosok pemimpin yang bijaksana dalam memberikan keputusan adalah hal yang harus di lakukan. Tentang bagaimana keputusan itu akan berdampak pahit atau manis itu tergantung kita menyikapinya.
Bagiku bapak adalah pemimpin yang bijaksana,memberikan Lingkaran Kepercayaan kepada mas Andi.
Mas Andi setelah di berikan kepercayaan untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, mas Andi begitu semangat mengurus semuanya.hasil lelah mas Andi berbuah manis , mas Andi di terima di universitas ternama di Jakarta, universitas Indonesia. Mas andi kuliah di Jakarta!, Ibu kota Indonesia. Konon cerita dari temanku Anita ,Jakarta kota yang tidak pernah tidur kota yang indah, kota yang paling sibuk dan paling macet. Ada rasa senang tersendiri mendengar mas Andi bisa kuliah di kota Jakarta. Tapi bila teringat mas Andi marah-marah kepada ibu, ada rasa Berbagai emosi berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku. Bingung. Penasaran. Panik. Ketakutan, tapi aku harus mampu membuang bayangan ketakutanku.
Mas Andi dan empat temanya duduk di teras rumah.ibuku, dan bapakku sangat ceria melihat anaknya mau berangkat kejakarta untuk menuntut ilmu.aku duduk di depan pintu.
" Kalau di Jakarta hati-hati, jangan lupa sholat dan berdoa , kirim kabar kepada ibu dan bapakku"
" Iya,bu,!. Andi akan kirim surat buat bapak dan ibu.andi minta doanya agar Andi di Jakarta selamat bisa wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang baik"
" Yo.. tentu tho,Ger! Itu sudah tugas orangtua bener tho,bune?"
Ibuku tersenyum sambil memandang wajah bapakku.
" Kalian selama kuliah di Jakarta tinggal dimana ,nanti?"
Pertanyaan polos bapakku yang tidak pernah melihat kota jakarta.aku juga belum pernah menginjakkan kakiku di ibu kota.
" Bapak, ibu,..maaf kami berlima harus berangkat....jangan pikirkan saat Andi di Jakarta. Kita tinggal bersama di rumah om saya" sela Budi
Senyum kedua orangtuaku semakin lebar, mas Andi dan ke empat temanya pun mulai berkemasan. Lalu menuju ke mobil yang parkir di pinggir jalan depan rumahku.mobil yang bagus mobil yang mahal harganya.ibu, bapak dan aku berdiri di sebelah mobil saat mas Andi dan keempat temanya udah masuk di mobil.
" Putro, jaga bapak dan ibu di rumah.ingat bantu mereka"
Pesan mas Andi padaku.
Aku tersenyum kepada mas Andi terlihat wajahnya berbinar laksana langit berbintang bersinar terang rembulan dan bintang-bintang ikut meramaikan keindahan malam.mas Andi dan temanya mengucapkan salam.
Mobil pun mulai bergerak pelan meninggalkan kami.
Pendidikan, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya itu penting untuk bekal hidup yang akan datang,karena kehidupan sekarang , pasti berbeda dengan kehidupan yang akan datang . Waktu akan merubah zaman.
Setelah keberangkatan mas Andi kejakarta kedua orang tuaku makin rajin mencari tambahan uang.ibuku buruh ngoyos di tempat orang ,sedangkan bapakku juga nyangkul sawah milik orang lain.selesai buruh di tempat orang lain tidak lupa orangtuaku mengurusi sawahnya yang tinggal sepetak karena sudah di jual buat biaya kuliah mas Andi. walau sawah tinggal sepetak ukuran 200m2 lumayan buat hidup.
Wajah lelah kedua orangtuaku makin terlihat.saat bapak dan ibuku duduk di ruang tamu sambil kaki mereka di pijit sendiri.
Terang lampu bohlam 5 whatt membiasakan ke segala penjuru ruang tamu. Aku membawakan teh manis kesukaan kedua orangtuaku dan aku pun duduk di samping ibuku menawarkan diri untuk memijit punggung ibuku, dengan tersenyum dan mengusap rambutku, ibuku membalikan badannya .aku mulai memijat punggung ibuku yang kurus.terasa sekali kulit dan tulang dalam genggamanku.
" Bapak, jga mau ,put! Badan bapak kaku semuanya"
Suara bapakku membuka obrolan.
" Injeh,pak"
" Kamu, mau ngelanjutin sekolah dimana nanti, Ger?. Di SMK atau SMU"
" Ga tahu,Bu!, Kan belum di umumkan kelulusanya, Putro lulus atau tidak?"
" Kamu lho, Ger- Ger bisa saja bikin guyu wong tuamu, pasti lulus kamu ,Ger!. Kalau lulus sekolah kejuruan saja kayak masmu Andi biar bisa kuliah ke Jakarta"
" Jeh,Pak !. Intinya Putro minta doanya sama ibu dan bapak."
" Sudah, ger! . Ganti bapakmu pijit."
Ibuku memintaku untuk berhenti memijit.kini aku mulai memijit punggung bapakku.
Rintik gerimis mulai terdengar di telingaku.tiada angin yang berdesir,tiada petir yang menggelegak,suara katak bernyanyi bersautan menyambut rintik hujan yang membasahi kaki kaki bumi.
***
Bersambung
" Apa aku salah.? mengorbankan cita-citaku,demi terwujudnya cita-cita, orang yang aku cintai?"
Aku tidak pernah meminta untuk di lahirkan, dari orangtua yang kaya atau yang miskin.begitu juga orang tuaku, tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk melahirkanku.
Orang tuaku seorang petani, kami dua bersaudara. Mas Andi, kakakku orang paling angkuh dan keras kepala. tapi dia tanggung jawab. Saat orang tuaku ke sawah mas Andi juga membantu. Mas Andi selalu ngajarin aku ngaji, membantuku pekerjaan rumah saat aku tidak bisa, aku sering di ajarkan berbagai macam Budi pekerti yang luhur.Sosok kakak yang bisa di buat contoh dan di kagumi.
Syukur adalah kenikmatan yang sangat luar biasa, rasa syukur itu tidak bisa di lukis dengan kanvas berjuta warna warni dan di tulis dengan rangkaian kata-kata indah untuk menaklukkan hati seorang wanita.
Hidup keluarga kami, aku bilang cukup seukuran petani yang hidup di desa. Karena orang tuaku mampu menyekolahkan aku yang saat ini masih di bangku sekolah kelas 3 menengah pertama tinggal menunggu pengumuman kelulusan,Mas Andi sudah lulus sekolah menengah kejuruan.walau mas Andi di sekolah tidak termasuk murid teladan tapi hasil ujian mas Andi cukup baik.
Mas Andi berambisi ingin menjadi orang sukses, maka mas Andi bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke universitas agar cita-citanya terwujud. Sebagai adik aku bangga dengan kakakku.
Seperti biasa aku membantu orang tuaku di sawah, Karena hari ini libur sekolah.
Adzan dhuhur berkumandang, nama pencipta jagad seisinya menggema di penjuru bumi, semuanya bertasbih menyebutnya.
" Putro..! Ayo kita pulang!
Ajak bapakku.
Aku pun melangkah menuju kepinggir sawah sambil menenteng cangkul. Kaki yang berlumpur pun aku bersihkan.bapakku tersenyum saat wajahnya aku tatap.
" Makanya..belajar yang rajin biar ga jadi petani kayak bapakmu dan ibumu..!"
" Jeh ,pak! Belajar itu kewajiban tho, bapak! Mau kerja pabrik,kantoran,atau tani itu pilihan lho,pak!"
"Anakku dah pinter ngomong..wes ayo dang pulang..masakan ibumu darmi sudah matang kelihatanya .."
Aku dan bapak tertawa bahagia dan kami pun melangkah pulang.
Terik matahari bersinar panas, udara yang agak lembab menetralisir panasnya sang matahari, kami berjalan di pematang sawah. Tanaman padi yang mulai belajar tumbuh, untuk bisa menjadi manfaat setiap manusia.
Rumahku yang sederhana, terbuat dari bambu yang Beratap genteng. halaman rumahku yang tidak terlalu luas, tumbuh pohon mangga mulai berbunga. Di tepi teras tumbuh bunga melati kesukaanku. Bunga melati yang harum putih warnanya makin indah saat kedua mataku melihat, ibuku yang sedang duduk di kursi di teras rumah. Ada 4 Kursi terbuat dari bambu tempat favorit temanku saat pada main kerumahku.
Terlihat jelas senyum ibuku laksana bidadari turun kebumi, karena surga tempatnya sudah penuh, sehingga bidadari ingin menjadi penghuni bumi.bila tuhan mengijinkanya,
Bapakku duduk di kursi. Sambil mengipas-ngipaskan topinya. Aku pun duduk setelah menaruh cangkul dan topiku yang terbuat dari bambu.ibuku menuangkan air putih dari kendi dan di berikan ke bapakku. Bapakku meminum air putih pemberian ibuku, lehernya yg mengkerut dan bunyi tenggorokan yang kehausan, selama ribuan tahun tersirami dengan kasih dari seorang istri.ibuku menyuruh bapak dan aku untuk bersih-bersih. Setelah itu sholat dan makan siang.
***
Lelah memeluk tubuhku habis membantu orang tuaku di sawah. Aku rebahkan tubuhku di tempat tidur yang terbuat dari bambu beralaskan tikar pandan .suara bunyi bambu terdengar saat tubuhku berbaring.
langit- langit kamarku tiada flopon, hanya bambu yang menopang genteng.
beberapa sarang laba-laba menghiasi langit kamarku. Dinding kamarku yang terbuat dari bambu tertempel foto aku mas Andi dan kedua orangtuaku tanpa di bingkai.
Angin yang berdesir masuk melalui jendela dan celah lobang dinding rumah yang terbuat dari bambu.
desiran angin itu berbisik, menyanyikan tentang keindahan alam yang membuat kita terbuai di alam khayalan yang indah.
Mataku mulai terpejam. Angin seolah mendongengkan aku dan hembusanya membelai lembut jiwa-jiwa yang harus kedamaian.
Samar-samar aku dengar keributan di ruang tamu, membuatku terbangun dari mimpi indahku.
" Darimana,ibumu bayar kuliah, Ger,!
Kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi kuliahmu di kota besar di, jakarta.ingat Andi kamu ini orang kampung bapak ibumu petani kamu harus ingat itu..."
Sayup aku dengar Suara ibuku dengan menahan tangis.
" Andi, tidak peduli...! Pokoknya Andi ingin, kuliah...!.Andi ingin sukses, biar Andi bisa hidup bahagia tidak seperti sekarang, sengsara.!".
Kedua mataku yang susah di ajak kompromi, pun terpaksa terbelalak saat mendengar bunyi gelas di banting.
" Istifar ..Ger! Apa yang merasuki mu astagfirullah..ya tuhan..hilangkan amarah anakku ini"
Aku bangun duduk tertegun,di pinggir tempat tidur. Rasa kantuk yang masih rindu kepada mataku tak mau pergi sesaat. Kakiku dengan memaksa tubuhku bangkit dan melangkah menuju ke pintu kamar. Aku mengintip di balik tirai kain pintu.
lukisan samar yang belum jelas wujudnya itu mulai tampak. Ibu menangis, air mata ibuku menetes membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.paras cantiknya 17 tahun yang lalu sudah di gerogoti waktu, selama 35 tahun tiada ampun menggerus usia manusia.
Di ruang tamu terlihat mas Andi dengan wajah garang berdiri di dekat pintu rumah seperti harimau menahan lapar karena puluhan tahun tidak pernah mendapat buruan. Sedangkan ibuku mengumpulkan pecahan gelas, dimana bumi kering kerontang retak tanpa turun hujan guritan hati ibuku berbisik terpancar dari kedua matanya. Bapakku tidak tampak dalam pandanganku.
"Kenapa harus amarah, menjadi tujuan utama untuk mencapai apa yang di inginkan"
Namun, saat ini Yang paling aku rasakan adalah kehampaan yang mendalam di dalam hatiku, serasa tiadanya harapan, seakan-akan hidupku telah berakhir , terhapus serta digantikan oleh sesuatu yang buruk.
Rasa simpatikku terhadap mas Andi perlahan-lahan pudar bersama amarahnya , kenapa begitu tega berkata kasar kepada orangtua yang melahirkan, merawat dan membesarkanya.
aku keluar kamar melangkah mendekati ibuku yang masih ngumpulin pecahan gelas mencoba membantunya. Kehadiranku membuat mas Andi makin marah.saat aku tatap wajahnya
Mata mas Andi melotot kepadaku, rasanya ingin mencabik-cabik tubuhku lalu di lempar ke sekawanan harimau untuk menikmati tubuhku. Raut ketakutan terpancar di wajahku
fikiranku kacau, seperti gemuruh air mendidih yang segera minta di angkat dari tungku pembakaran.
" Dimana, bapak kenapa bapak tidak ada saat, mas Andi marah-marah yang tidak tahu etika pekerti, apakah karena pergaulan mas Andi yang kurang baik di sekolah?"
Kata dalam hatiku.
Aku lihat bapakku masuk kerumah dengan nada lembut berwibawa berkata
" Yaa..! kuliah!.
Berjalan menuju ke kursi dan duduk
"biar bapak jual sawah dulu, dan uangnya buat biaya kuliah kamu, bapak dan ibumu Masih sanggup meyekolahkanmu kemana saja."
Aku dan ibuku mendekati bapakku lalu duduk.
" Sabar ..Ger!. Udah buang amarahmu"
" Sudah, Bu.! Kalau Andi mau kuliah mari kita siapkan biayanya..Kita hanya dapat titipan dari Allah. Merawat dan mendidiknya, Selain itu biar Allah yang mengurus"
***
Aku menyadari kata bijaksana adalah hal untuk menyikapi setiap persoalan yang ada. Sosok pemimpin yang bijaksana dalam memberikan keputusan adalah hal yang harus di lakukan. Tentang bagaimana keputusan itu akan berdampak pahit atau manis itu tergantung kita menyikapinya.
Bagiku bapak adalah pemimpin yang bijaksana,memberikan Lingkaran Kepercayaan kepada mas Andi.
Mas Andi setelah di berikan kepercayaan untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, mas Andi begitu semangat mengurus semuanya.hasil lelah mas Andi berbuah manis , mas Andi di terima di universitas ternama di Jakarta, universitas Indonesia. Mas andi kuliah di Jakarta!, Ibu kota Indonesia. Konon cerita dari temanku Anita ,Jakarta kota yang tidak pernah tidur kota yang indah, kota yang paling sibuk dan paling macet. Ada rasa senang tersendiri mendengar mas Andi bisa kuliah di kota Jakarta. Tapi bila teringat mas Andi marah-marah kepada ibu, ada rasa Berbagai emosi berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku. Bingung. Penasaran. Panik. Ketakutan, tapi aku harus mampu membuang bayangan ketakutanku.
Mas Andi dan empat temanya duduk di teras rumah.ibuku, dan bapakku sangat ceria melihat anaknya mau berangkat kejakarta untuk menuntut ilmu.aku duduk di depan pintu.
" Kalau di Jakarta hati-hati, jangan lupa sholat dan berdoa , kirim kabar kepada ibu dan bapakku"
" Iya,bu,!. Andi akan kirim surat buat bapak dan ibu.andi minta doanya agar Andi di Jakarta selamat bisa wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang baik"
" Yo.. tentu tho,Ger! Itu sudah tugas orangtua bener tho,bune?"
Ibuku tersenyum sambil memandang wajah bapakku.
" Kalian selama kuliah di Jakarta tinggal dimana ,nanti?"
Pertanyaan polos bapakku yang tidak pernah melihat kota jakarta.aku juga belum pernah menginjakkan kakiku di ibu kota.
" Bapak, ibu,..maaf kami berlima harus berangkat....jangan pikirkan saat Andi di Jakarta. Kita tinggal bersama di rumah om saya" sela Budi
Senyum kedua orangtuaku semakin lebar, mas Andi dan ke empat temanya pun mulai berkemasan. Lalu menuju ke mobil yang parkir di pinggir jalan depan rumahku.mobil yang bagus mobil yang mahal harganya.ibu, bapak dan aku berdiri di sebelah mobil saat mas Andi dan keempat temanya udah masuk di mobil.
" Putro, jaga bapak dan ibu di rumah.ingat bantu mereka"
Pesan mas Andi padaku.
Aku tersenyum kepada mas Andi terlihat wajahnya berbinar laksana langit berbintang bersinar terang rembulan dan bintang-bintang ikut meramaikan keindahan malam.mas Andi dan temanya mengucapkan salam.
Mobil pun mulai bergerak pelan meninggalkan kami.
Pendidikan, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya itu penting untuk bekal hidup yang akan datang,karena kehidupan sekarang , pasti berbeda dengan kehidupan yang akan datang . Waktu akan merubah zaman.
Setelah keberangkatan mas Andi kejakarta kedua orang tuaku makin rajin mencari tambahan uang.ibuku buruh ngoyos di tempat orang ,sedangkan bapakku juga nyangkul sawah milik orang lain.selesai buruh di tempat orang lain tidak lupa orangtuaku mengurusi sawahnya yang tinggal sepetak karena sudah di jual buat biaya kuliah mas Andi. walau sawah tinggal sepetak ukuran 200m2 lumayan buat hidup.
Wajah lelah kedua orangtuaku makin terlihat.saat bapak dan ibuku duduk di ruang tamu sambil kaki mereka di pijit sendiri.
Terang lampu bohlam 5 whatt membiasakan ke segala penjuru ruang tamu. Aku membawakan teh manis kesukaan kedua orangtuaku dan aku pun duduk di samping ibuku menawarkan diri untuk memijit punggung ibuku, dengan tersenyum dan mengusap rambutku, ibuku membalikan badannya .aku mulai memijat punggung ibuku yang kurus.terasa sekali kulit dan tulang dalam genggamanku.
" Bapak, jga mau ,put! Badan bapak kaku semuanya"
Suara bapakku membuka obrolan.
" Injeh,pak"
" Kamu, mau ngelanjutin sekolah dimana nanti, Ger?. Di SMK atau SMU"
" Ga tahu,Bu!, Kan belum di umumkan kelulusanya, Putro lulus atau tidak?"
" Kamu lho, Ger- Ger bisa saja bikin guyu wong tuamu, pasti lulus kamu ,Ger!. Kalau lulus sekolah kejuruan saja kayak masmu Andi biar bisa kuliah ke Jakarta"
" Jeh,Pak !. Intinya Putro minta doanya sama ibu dan bapak."
" Sudah, ger! . Ganti bapakmu pijit."
Ibuku memintaku untuk berhenti memijit.kini aku mulai memijit punggung bapakku.
Rintik gerimis mulai terdengar di telingaku.tiada angin yang berdesir,tiada petir yang menggelegak,suara katak bernyanyi bersautan menyambut rintik hujan yang membasahi kaki kaki bumi.
***
Bersambung
Langganan:
Komentar (Atom)

